Kawah Putih

Suasana Mistis di Kawah Putih

Kawah Putih (bahasa Inggris: Kawah Putih) adalah danau kawah yang mencolok dan tempat wisata di kawah gunung berapi sekitar 50 km selatan Bandung di Jawa Barat di Indonesia. Danau Kawah Putih (7.10 ° S 107.24 ° E) adalah salah satu dari dua kawah yang membentuk Gunung Patuha, sebuah stratovolcano andesitik (gunung berapi "komposit"). Gunung Patuha adalah salah satu dari banyak gunung berapi di Jawa. Danau Kawah Putih sendiri merupakan sistem vulkanik yang relatif stabil tanpa catatan aktivitas signifikan sejak sekitar 1600.

Situs Kawah Putih dibuka untuk pengunjung pada tahun 1987. Danau ini 2.430 meter di atas permukaan laut sehingga iklim lokal seringkali cukup dingin (suhu sering sekitar 10 derajat Celcius). Ini membuat perubahan cepat dari kelembaban dataran Jawa utara dan ibu kota Jakarta. Kawah Putih adalah danau sangat asam yang sangat besar (pH 0,5-1,3) yang berubah warna dari kebiru-biruan menjadi hijau keputihan, atau cokelat, tergantung pada konsentrasi belerang dan suhu atau keadaan oksidasi. Pasir dan bebatuan di sekitar danau juga telah larut ke dalam warna keputihan melalui interaksi dengan air danau asam (dengan kemungkinan presipitasi mineral juga).

Danau ini konon ditemukan pada tahun 1837 oleh Dr Franz Wilhelm Junghuhn, seorang ahli botani Jerman yang melakukan banyak penelitian di Indonesia hingga kematiannya di Lembang, sebelah utara Bandung, pada tahun 1864. Pada saat itu, ada berbagai cerita lokal tentang sejarah daerah tersebut. Burung-burung dikatakan enggan terbang di dekat kawasan itu dan penduduk desa di daerah itu cenderung menganggap hutan di sekitar danau itu menakutkan dan agak misterius. Kisah-kisah ini mendorong Dr Junghuhn untuk menyelidiki. Dia menemukan Kawah Putih. Dahulu ada tambang belerang di kawah meskipun produksi sekarang telah berhenti. Sebuah tanaman belerang yang dikenal sebagai Zwavel Ontgining Kawah Putih pertama kali didirikan di dekat danau selama periode pemerintahan Belanda di Jawa. Pabrik itu kemudian diambil alih selama Perang Dunia II oleh militer Jepang dan dioperasikan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey. Titik masuk ke berbagai terowongan yang mewakili sisa-sisa kegiatan penambangan ini dapat dilihat di beberapa titik di sekitar lokasi saat ini. Lebih dari seabad setelah Franz Wilhelm Junghuhn pertama kali menemukan danau itu, pada tahun 1991 perusahaan kehutanan milik negara Indonesia Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten (Unit Kehutanan No III untuk Jawa Barat dan Banten) mulai mengembangkan situs tersebut sebagai tempat wisata.


Daerah sekitarnya adalah hutan lebat. Ada jalan setapak menuju danau yang dikelilingi oleh tembok tinggi kawah yang bersarang di sisi Gunung Patuha. Bau belerang sangat kuat karena ada banyak uap dan gas belerang yang menggelegak dari danau. Ada trek di sekitar danau dan melalui hutan terdekat termasuk ke puncak Gunung Patuha. Pengunjung dapat berjalan di sekitar area kawah atau duduk di berbagai tempat penampungan. Tanaman lokal yang tidak banyak ditemukan di dataran rendah di Pulau Jawa termasuk Edelweiss dan Cantigy (Vaccinium varingifolium) Jawa. Hewan dan burung yang mungkin terlihat termasuk elang, burung hantu, monyet, kancil, dan babi hutan. Kumbang, macan tutul, dan ular sanca juga terkadang terlihat di hutan terdekat. Berbagai fasilitas sederhana ada di dekat danau. Ada banyak parkir dan toilet umum. Vendor wirausaha menjual pernak-pernik dan makanan. Situs ini ditandai dengan baik. Petani lokal sering mengambil kesempatan untuk menjual stroberi (banyak ditanam di daerah itu), jagung kukus, dan berbagai barang lainnya seperti biji labu (pepita).